Agama Kebudayaan Jawa


Mojokuto, kota kecil di bagian tengah Jawa Timur, terletak di ujung paling timur dari sebuah persawahan yang besar dan beririgasi. Sebuah sungai yang melingkar, melintasi dataran itu, mengalir ke utara menuju Laut Jawa. Jaraknya setengah hari peijalanan dari Surabaya, kota terbesar kedua serta pelabuhan utama di Indonesia. 

Mojokuto menandai titik dimana daerah pedesaan yang datar dan subur mulai menanjak ke lereng gunung berapi yang menjulang di timur, yang letusan-letusan periodiknya memberikan kesuburan kepada daerah itu. Sebagai pusat perdagangan, pendidikan dan pemerintahan untuk 18 desa di sekitarnya, kota ini berpenduduk sekitar 20.000 orang. Mereka terdiri atas 18.000 orang Jawa, 1.800 orang Cina dan selebihnya orang-orang Arab, India serta minoritas lainnya.

Bentuk spasialnya ditentukan oleh pertemuan tiga jalan kelas dua yang beraspal buruk, satu dari Surabaya, satu dari ibukota kabupaten yang terletak sekitar 24 kilometer ke arah barat dan satu lagi dari sebuah kota besar di pedalaman yang terletak di balik pegunungan di sebelah timur. Pada tiga sisinya, kota itu dilingkari oleh ribuan petak sawah kecil dengan pematang dari lumpur, kebanyakan tak lebih dari 25 meter persegi.

Diairi pada musim hujan oleh sebuah sistem irigasi kuno berupa selokan, sumber air dan penampung air, yang disempurnakan dengan dam dari semen serta pintu air dari baja yang diperkenalkan oleh Belanda, daerah persawahan ini hampir seluruhnya ditanami padi untuk enam bulan setiap tahun. 

Pada musim kemarau yang kentara benar di Jawa Timur, tanah itu tak dibiarkan menganggur, tetapi ditanami jagung, kedelai, kacang, bawang, cabe, atau ketela rambat—biasanya dua atau tiga dari tanaman itu secara berganti-ganti.

Hampir semua tanah yang dimiliki di sini kecil-kecil—di bawah 12.141 meter persegi— dan walaupun banyak juga sawah yang disewakan dengan bagi hasil, teratama di dekat kota, pemilik tanahnya tidak tinggal di daerah lain (absentee). Tanah mereka pun, dengan satu dua pengecualian yang tak terlalu mencolok, tidak lebih luas dari tanah para petani.

Pada sisi keempat kota Mojokuto, sebelah baratdaya, terdapat hutan dan tanah kering yang rekah-rekah, kebanyakan tak bisa diairi. Pada awal abad ini, di atas tanah itu pemah dibangun sistem perkebunan besar kopi, karet dan gula. Dimiliki dan dikelola oleh Belanda, tetapi digarap orang Jawa, jaringan perkebunan serta pabrik gula ini mempunyai dampak besar pada perekonomian Mojokuto sebelum perang.

Mengingat kota ini baru didirikan menjelang akhir abad ke-19, maka interaksi antara sistem persawahan yang intensif serta berskala kecil yang dikeijakan oleh petani Jawa, dengan perkebunan tanaman komersial Belanda yang ekstensif dan berskala besar, telah membentuk sejarah perekonomian daerah ini hampir sejak masa permulaannya.

Sekarang Belanda telah meninggalkan Mojokuto, sistem perkebunan dan pabrik mereka digoncang oleh depresi serta dihancurkan oleh perang serta revolusi. Yang tersisa hanyalah kaum tani yang sangat terbiasa dengan uang serta barang-barang luar negeri, pengangguran besar-besaran di desa maupun kota dan sebuah ekonomi yang sangat kompleks dimana minoritas Cina menguasai jalur utama perdagangan.
Orang Cina merupakan jantung sistem peredaran ekonomi di Mojokuto, menyalurkan barang-barang yang kebanyakan diimpor, melalui saluran utamanya, menyedot kembali barang-barang, yang sebagian besar merupakan hasil pertanian, melalui saluran-saluran kecilnya dan meneruskannya ke pusat-pusat kota besar untuk distribusi lebih lanjut.

Kegiatan komersial orang Jawa hanya berarti di antara ujung kedua saluran itu—dimana keduanya beijalin menjadi sebuah jaringan yang kompleks dari urat-urat kapiler ekonomi yang kecil dan bercabang[1]cabang, yang teijalin dengan bagus sekali dan menyelusup ke celah-celah kecil kehidupan Pribumi.

Ada dua daerah bisnis, keduanya terdiri atas deretan toko kayuyang kecil dan terbuka seluruh pintu depannya, hampir semuanya dijalankan oleh orang Cina. Dalam toko itu kita jumpai berbagai alat dan perkakas, cat rumah, berbagai jenis bahan pangan, barang-barang perhiasan, gigi palsu, onderdil mobil serta sepeda, bahan bangunan, tekstil dan obat[1]obatan—dari obat-obat sulfa sampai tanaman berkhasiat: lidah buaya dan kumis kucing.

Yang lebih penting lagi dilihat dari sisi kekuasaan ekonomi adalah kontrol orang Cina atas perdagangan hasil panen musim kemarau dari ladang-ladang orang Jawa. 

Penggilingan beras mereka juga memproses padi dari ladang-ladang itu (walaupun selama beberapa tahun yang lalu, sebagian besar pembelian beras itu dilakukan atas dasar kontrak dengan pemerintah dan secara nominal berada di bawah pengawasan pemerintah).

Orang Cina memiliki hampir semua truk dan kendaraan angkutan lainnya yang melaksanakan sebagian besar pengangkutan antarkota (dengan bis-bis dan kereta); mereka juga memiliki hampir semua becak yang mengangkut penumpang di dalam kota. Pabrik-pabrik skala kecil yang agak besar di kota dan luar kota—penggilingan beras, penggergajian kayu, pabrik soda, roti, arang—dengan sedikit sekali pengecualian, berada di tangan orang[1]orang Cina.

Orang-orang Cina memiliki gedung bioskop serta teater tempat sandiwara Jawa dan mereka mengelola pasar malam ketika ada pasar malam di kota. Hanya satu larangan saja yang menghalangi mereka mendominasi keseluruhan perekonomian: mereka dilarang memiliki tanah pertanian oleh sebuah hukum Belanda yang diteruskan pada zaman Republik.

Toko-toko orang Jawa hampir semuanya kecil, berjurnlah kurang lebih selusin, kebanyakan berada di daerah perdagangan kelas dua. Inti kehidupan perdagangan Pribumi adalah pasar, dimana tiap hari ratusan pedagang dan spekulan Jawa, baik profesional maupun semiprofesional, laki-laki maupun perempuan, tawar-menawar dengan sengit, dalam usaha mati-matian untuk memperoleh nafkah hidup atau sebagian nafkah dari perdagangan antarpribadi berksala kecil.

Tekstil, persediaan pangan sehari-hari dan palawija mungkin merupakan bagian terbesar perdagangan itu; tetapi kancing baju, ikan asin, barang anyaman, keranjang, parfum, buku-buku agama, makanan yang sudah dimasak, kopi panas, meja serta kursi, jarum, pakaian jadi, daging, obat-obatan paten, barang dari kulit, payung, pot dan panci—pendeknya hampir semua barang yang bisa dibawa—setiap hari pindah dari tangan ke tangan dan memberi keuntungan (biasanya kecil) kepada seseorang.

Di pasar, kita bisa mencukur rambut, membetulkan sepeda, atau menambal celana kita sementara kita menunggu. Kita bisa menyewa sebuah tempat di bawah pohon atau sebuah jongko (kios) kayu dengan uang setali dan menjual rokok dengan harga satu sen di atas harga pembe[1]liannya di toko Cina di seberang jalan.

Kita bisa membeli sekeranjang jagung di pagi hari dan menjualnya di siang hari tanpa meninggalkan pasar untuk memperoleh untung dari kenaikan harga yang tipis sekali, yang terjadi saban hari selama pasar dibuka. (Kalau kita adalah sahabat atau kenalan-pembayar juru timbangan, kita bisa memperoleh untung dari berat jagung yang lebih besar ketika kita menjualnya dari pada ketika kita membelinya).

Atau dengan dua rupiah sehari (dan modal beberapa ratus rupiah) kita bisa menjadi salah seorang aristokrat pasar dengan kios milik sendiri seluas tiga meter, menjual tekstil impor dan dalam negeri dengan harga lebih tinggi dari nilai sebenarnya, karena kita bisa membujuk seorang petani yang tak waspada untuk membelinya.

Untuk orang Jawa di Mojokuto, baik penjual maupun pembeli, pasar adalah model kehidupan perdagangan yang sebenarnya, sumber dari hampir semua gagasan mereka tentang apa yang mungkin dan pantas dalam tingkahlaku ekonomi. Di samping perdagangan kecil, tiga kegiatan lain di luar pertanian yang memainkan peran penting dalam sektor ekonomi orang Jaw a: tenaga kerja kasar tanpa keahlian, kerja pertukangan dan perbaikan yang mandiri serta kerja kantoran kerah-putih.

Buruh kasar, kalau mendapatkan pekerjaan, bisa dipekerjakan oleh orang Cina dalam penggilingan padi, tempat-tempat penjualan kayu atau perusahaan lain mereka; oleh pemerintah untuk memperbaiki jalan, membangun bendungan pengairan, atau menyapu jalan; atau oleh salahsatu industrl kerajinan tangan orang Jawa yang tersebar di sana-sini dengan ciri “sekarang di sini, besok pindah lagi".

Banyak yang bekerja di jalan kereta api berukuran sempit yang dilewati empat kereta penumpang berukuran pendek setiap harinya, untuk dihubungkan dengan jalur induk Surabaya, sekitar 24 kilometer di sebelah utara Mojokuto. Banyak juga yang menjadi pembantu orang-orang yang lebih kaya di kota, meskipun kepergian Belanda jelas mengurangi kesempatan kerja di bidang ini.

Para tukdfig yang mandiri—tukang kayu, sopir, tukang batu, pandai besi, tukang jam, tukang cukur, penjahit—tersebar secara tak merata di seluruh kota, karena mereka umumnya bekerja di rumah mereka sendiri, menerima pekeijaan yang sesekali datang dan beralih dengan gelisah ke pekeijaan tanpa keahlian apabila dipaksa oleh tekanan ekonomi.

Pegawai kantor, guru serta pejabat pemerintah merupakan elite sosial dan intelektual di Mojokuto, pewaris tradisi politik dimana kemampuan baca-tulis hanya terbatas pada kelas bangsawan yang bersifat turun-temurun serta dilahirkan untuk memerintah dan karenanya, memperoleh kehormatan.

Banyak tanda kasta lama dari para literati yang kini nyaris lenyap—payung-payung berwarna-warni sebagai lambang kepangkatan, tindakan bungkuk orang bawahan untuk menyentuh lutut atasan yang berdiri, pengumuman tentang keturunan dengan penggunaan gelar keraton, sikap malu-malu dan gagap petani di depan pejabat pemerintah—tetapi sikap hormat dan ketundukan yang bersifat umum dari orang tak terpelajar kepada orang yang terpelajar tetap ada.

Jumlah kaum terpelajar meningkat agak cepat akhir-akhir ini dengan adanya perluasan sistem sekolah sesudah masa revolusi. Di Mojokuto, ada setengah lusin sekolah dasar negeri enam tahun, sekolah teknik negeri setara sekolah menengah pertama, tiga sekolah menengah atas swasta, sekolah negeri untuk pendidikan guru sekolah dasar serta berbagai sekolah swasta lain, termasuk sekolah dasar Cina dan Katolik.

Lagipula, setiap desa di sekitar Mojokuto memiliki sekolahnya sendiri dan masih ada sejumlah sekolah agama bergaya-lama di wilayah yang baru saja disemimodernisasikan. Hasil dari perkembangan kegiatan pendidikan yang tiba-tiba ini ialah bahwa kelompok guru di satu pihak dengan pelajar lanjutan di pihak lain, menjadi dua kelomjpok sosial yang paling dinamis dan paling jelas batasannya dalam masyarakat.

Dua kelompok ini mungkin adalah kelompok yang paling renggang ikatannya dengan masa lalu Jawa dan yang hubungannya dengan lapisan masyarakat lain, paling ambigu. Ada dua jawatan pemerintah yang utama di Mojokuto, karena kota itu merupakan kota kaw edanaif sekaligus kecamatan. Kecamatan, tingkat terbawah yang bisa dijangkau oleh birokrasi nasional yang seluruhnya diangkat, memerintah delapan belas desa, semuanya terletak dalam jarak sekitar 16 kilometer dari kota.

Kawedanan memerintah lima kecamatan yang berdampingan, termasuk Kecamatan Mojokuto sendiri; selanjutnya kawedanan itu berada di bawah pemerintah daerah (kabupaten), yang ibukotanya ialah Bragang, sebuah kota yang dekat dengan Mojokuto. Di samping itu markas regional kepolisian negara terletak di Mojokuto, bukan di Bragang.

Demikian juga dengan jawatan pegadaian negara dan rumah sakit untuk wilayah itu. Jawatan[1]jawatan yang berurusan dengan perbaikan jalan, pembangunan dan perawatan sistem irigasi, peningkatan pertanian dan pengurusan pasar menambah jumlah pegawai kerah-putih yang dipekeijakan atau setengah dipekerjakan oleh pemerintah, begitu pula kantor pos dan kantor perwakilan Departemen Agama setempat.

Lima jenis mata pencarian utama ini—petani, pedagangkecil, tukang yang mandiri, buruh kasar dan guru, administrator atau pegawai kerah[1]putih—mewakili penduduk Jaw a di Mojokuto, yang dikelompokkan menurut kegiatan ekonomi mereka. Tipologi pola pekerjaan yang terkristalisasi mencerminkan dasar organisasi sistem ekonomi kota ini, yang darinya tipologi ini dihasilkan.

Demikian juga penggolongan penduduk menurut pandangan mereka—menurut kepercayaan agama, preferensi etis dan ideologi politik mereka—menghasilkan tiga tipe utama kebudayaan yang mencerminkan organisasi moral kebudayaan Jawa sebagaimana terwujud di Mojokuto, ide umum tentang ketertiban yang dengannya petani, buruh, tukang, pedagang atau pegawai membentuk perilaku mereka dalam segala bidang kehidupan.

Tiga tipe kebudayaan ini adalah abangan, santri dan priyayi. Menurut hemat saya, rupanya terdapat tiga inti struktur sosial yang utama di Jawa pada masa ini; desa, pasar dan birokrasi pemerintah—masing-masing digunakan dalam arti yang lebih luas daripada biasanya.

Desa Jawa sama tuanya dengan orang Jawa sendiri, karena sepertinya orang-orang Melayu-Polynesia yang pertama kali datang ke pulau ini sudah memiliki pengetahuan tentang pertanian. Evolusi desa Jaw a sampai kepada bentuknya yang sekarang, pada setiap tahapnya diatur dan diekspresikan oleh sistem keagamaan yang kurang lebih terpadu; sistem kegamaan itu sendiri tentu saja juga mengalami perkembangan.

Pada masa sebelum Hindu, yang mulai datang di pulau ini sekitar tahun 400 S.M. atau sebelumnya, agaknya jenis “animisme” yang masih lazim di kalangan suku- suku penyembah berhala di Malaysia membentuk keseluruhan tradisi agama yang ada; tetapi tradisi ini, sclama berabad[1]abad, telah terbukti mampu menyerap ke dalam satu keseluruhan yang sinkretil^ unsur Hinduisme maupun Islam, yang menyusulnya pada abad ke-15.

Demikianlah, dewasa ini sistem keagamaan desa lazimnya terdiri atas sebuah integrasi yang berimbang antara unsur-unsur animisme, Hindu dan Islam; sebuah sinkretisme dasar orang Jawa yang merupakan tradisi rakyat yang sebenarnya di pulau itu. 

Dasar utama peradabannya; namun, situasinya lebih kompleks dari ini, karena seperti yang akan kita lihat nanti, tidak hanya banyak petani yang tidak mengikuti sinkretisme ini, tetapi juga banyak orang kota—kebanyakan para petani kelas rendah yang tersingkir atau anak-anak petani yang tersingkir—mengikutinya.

Tradisi keagamaan abangan, yang terutama sekali terdiri atas pesta keupacaraan yang disebut slametan, kepercayaan yang luas dan kompleks terhadap mahluk halus serta serangkaian teori dan praktik pengobatan, sihir serta magi, adalah subvarian pertama dalam sistem keagamaan umum orang Jawa, yang akan saya uraikan di bawah nanti.

Sistem ini diasosiasikan dengan cara yang luas dan umum dengan desa orang Jawa. Substruktur sosial utama yang kedua, pasar, hams dimengerti dalam arti yang luas hingga mencakup seluruh jaringan hubungan dagang dalam negeri di pulau itu. Untuk bagian terbesar, aspek interlokal perdagangan ini berada di tangan orang Cina; aspek yang lebih lokal berada di tangan orang Jawa, sekalipun ada banyak keadaan yang tumpang-tindih.

Pengaitan elemen perdagangan orang Jawa dengan versi Islam yang lebih murni daripada yang lazim di Jawa, bisa ditarik ke belakang sampai ke saat masuknya agama Timur Tengah itu ke Pulau Jawa. Pasalnya, agama itu masuk sebagai bagian dari perluasan dagang besar-besaran di sepanjang Laut Jawa, yang pada akhirnya dirangsang oleh kemunculan Abad Eksplorasi di Eropa.

Kedatangan orang Belanda menghancurkan perdagangan orang Jawa yang ramai serta berkembang di pelabuhan-pelabuhan pantai utara—Surabaya, Gresik, Cuban dan lain-lain—sebagai bagian dari ekspansi ini. Namun, kultur dagang itu tidak mati sepenuhnya; ia bertahan hidup sampai sekarang, walaupun sudah banyak berubah dan melemah.

Bangkitnya gerakan pembaruan Islam di Indonesia pada awal abad ini sebagai bagian dari gerakan nasionalis secara umum, yang pada 1945 akhirnya membuat Indonesia merdeka dari kekuasaan Belanda, menghidupkan kembali dan semakin mempertajam semangat untuk Islam yang lebih murni, yang tidak begitu terkontaminasi oleh animisme atau mistisisme, di antara elemen pedagang kecil dalam masyarakat Jawa.

Islam yang lebih murni itu merupakan subtradisi yang saya sebut santri. Walaupun dengan cara yang umum dan luas, subvarian santri ini dipertautkan dengan elemen dagang orang Jawa, ia tidak hanya berlaku bagi kalangan dagang saja. Demikian juga, tidak semua pedagang betul-betul merupakan pemeluk subvarian itu. Ada elemen santri yang kuat di desa-desa.

Mereka seringkali berada di bawah pimpinan para petani yang lebih kaya yang sudah mampu naik haji ke Mekkah dan setelah kembali, mendirikan sekolah-sekolah agama. Pada pihak lain, pasar, khususnya sejak perang dan lenyapnya permintaan Belanda akan pelayan dan buruh kasar, penuh sesak oleh kerumunan pedagang kecil abangan yang mencoba mencari nafkah seadanya.

Walaupun begitu, jumlah terbanyak dari pedagang yang lebih besar serta giat masih berasal dari kalangan santri. 

Tradisi keagamaan kalangan santri tidak hanya terdiri atas pelaksanaan ritual dasar Islam secara cermat dan teratur—sembahyang, puasa, haji—tetapi juga mencakup seluruh organisasi sosial, kedermawanan serta politik Islam.

Tradisi ini adalah subvarian kedua dad sistem keagamaan orang Jawa pada umumnya, yang akan saya uraikan nanti. 

Ketiga adalah priyayi. Pada mulanya, priyayi hanya merujuk pada kalangan aristokrasi turun-temurun yang oleh Belanda dicomot dengan mudah dad raja-raja Pribumi yang ditaklukkan, untuk kemudian diangkat sebagai pegawai sipil yang digaji.

Elite pegawai kerah-putih ini, yang ujung akarnya terletak pada keraton Hindu-Jawa sebelum masa kolonial, memelihara serta mengembangkan etiket keraton yang sangat halus, sebuah seni tad, sandiwara, musik dan puisi, yang sangat kompleks dan mistisisme Hindu-Buddha. Mereka tidak menekankan elemen animistis dad sinkretisme Jawa yang serba melingkupi seperti kaum abangan, tetapi tidak pula menekankan elemen Islam sebagaimana kaum santri, melainkan menitikberatkan pada elemen Hinduisme.

Di abad ini, posisi sosial dan politik yang diwariskan kelompok ini, sepanjang terkait dengan masyarakat asli Jawa (Belanda tentu saja menduduki posisi dominan sejati sampai masa revolusi), sudah makin lemah. Akses untuk masuk birokrasi sudah lebih mudah bagi kalangan yang sekalipun berketurunan rendahan, tetapi memiliki pendidikan yang baik dan pekeijaan “kerah-putih” non-pemerintah telah muncul dalam jumlah yang semakin banyak.

Lagipula, pada kelompok “birokratik” inilah Belanda memiliki pengaruh akulturasi yang paling langsung, yang pada akhirnya melahirkan elite politik Republik Indonesia yang sangat sekuler, ferbaratkan dan pada umumnya, agak antitradisi.

Akibatnya, kultur keraton yang tradisional melemah. Sekalipun demikian, varian priyayi tidak saja tetap kuat bertahan di antara elemen koservatif tertentu dari masyarakat, tetapi juga memainkan peran dasar dalam membentuk pandangan dunia, etika dan tingkahlaku sosial dari elemen yang bahkan paling terbaratkan dalam kelompok kerah-putih yang masih dominan.

Sopan-santun yang halus, seni tinggi serta mistisisme intuitif, semuanya masih menjadi karakteristik utama elite Jawa; dan sekalipun sudah semakin menipis serta mengalami penyesuaian dengan keadaan yang telah berubah, gaya hidup priyayi masih tetap menjadi model tidak hanya untuk kalangan elite, tetapi dalam banyak hal, juga untuk seluruh masyarakat.

Abangan, yang merepresentasikan penekanan pada aspek animistis dari sinkretisme Jawa yang serba melingkupi dan secara luas terkait dengan elemen petani; santri, yang mewakili penekanan pada aspek Islam dari sinkretisme dan umumnya dihubungkan dengan elemen peda[1]gang (juga kepada elemen tertentu di kalangan tani); serta priyayi, yang menekankan aspek Hindu dan terkait dengan elemen birokratik—semua ini, dengan demikian, adalah tiga subtradisi utama yang akan saya gambarkan.
 
Mereka bukan jenis yang diada-adakan, tetapi merupakan istilah dan penggolongan yang diterapkan sendiri oleh orang Jawa.

Ketiganya mengindikasikan cara orang Jawa di Mojokuto memahami situasi, yang saya harapkan bisa terlihat dari kutipan yang panjang dari catatan lapangan saya, yang saya sertakan dalam teks. 

Semua kutipan ini barangkali tidak mutlak diperlukan untuk penggambaran sederhana mengenai agama orang Mojokuto, tetapi menurut saya, salahsatu ciri laporan etnografi yang baik—esei ini tidaklah lebih dari sebuah laporan—adalah bahwa si etnografer mampu mencari jalan ke luar dari datanya, untuk membuat dirinya sendiri jelas agar para pembaca dapat melihat sendiri bagaimana fakta-fakta itu kelihatannya dan dengan demikian, menilai kesimpulan serta generalisasi si etnografer dalam kaitannya dengan persepsi aktual si etnografer.

Jawa tak mudah dicirikan dengan satu label atau digambarkan di bawah satu tema yang dominan. Pulau itu lebih lama mengalami peradaban daripada Inggris yang selama lebih dari 1500 tahun telah menyaksikan orang-orang India, Arab, Cina, Portugis serta Belanda, datang dan pergi. Dewasa ini, Jawa memiliki jumlah penduduk yang termasuk paling padat di dunia, pertumbuhan kesenian yang paling tinggi serta pertanian yang paling intensif. Sungguh benar bahwa dalam menggambarkan agama sebuah peradaban yang begitu kompleks sebagaimana peradaban Jawa, pandangan tunggal sederhana mana pun pasti tidak memadai. 

Karenanya, pada halaman-halaman berikut, saya mencoba menunjukkan betapa banyak variasi dalam upacara, pertentangan dalam kepercayaan dan konflik dalam nilai-nilai, yang tersembunyi di balik pernyataan sederhana bahwa penduduk Jawa lebih dari 90% beragama Islam.

Kalau saya, sebagai konsekuensinya, telah memilih penekanan pada keanekaragaman keagamaan di Jawa masa kini—atau lebih khusus lagi, di sebuah kompleks kota-desa di Jawa masa kini—maka maksud saya bukanlah untuk mengingkari dasar kesatuan keagamaan dari rakyat Jawa, atau lebih luas lagi, dari rakyat Indonesia pada umumnya. 

Namun, untuk membawa pulang, kenyataan te-itang kompleksitas, kedalaman dan kekayaan kehidupan spiritual mereka.

Sumber : Agama Jawa (Clifford Geertz)